Dalam bukunya The Awakened Family, Dr. Shefali Tsabary mengatakan bahwa cara menghadapi anak yang sedang marah adalah melakukan hal sebaliknya. Artinya kita tidak boleh ikut marah. Kita bersikap sebagaimana kita ingin anak kita bersikap.
Begitu banyak saran, nasihat, tips atau seperti yang saya tulis di paragraf awal, semua hal tentang parenting yang pada proses penerapannya dibutuhkan improvisasi luar biasa. Ketika hari pertama, kedua, berjalan baik, hari-hari berikutnya selalu ada tantangan baru. MasyaAllah betapa kesabaran yang begitu besar perlu kita upayakan, setiap detik, menit, jam, hari dan seterusnya hingga habis waktu kita di dunia. Terdengar berlebihan ya?
Sebagian dari kita, orang tua, mungkin tidak sepusing saya, mungkin juga lebih pusing, dan mungkin biasa saja. Bagi saya parenting itu sendiri memusingkan karena saya harus keluar dari zona nyaman, berhadapan dengan berbagai macam perkara, perasaan yang tidak saya sukai. Tapi, parenting juga tidak seburuk itu. Sama seperti hal lainnya, ada suka, begitu pula duka. Apa makna parenting?
Dunia Barat sepamahaman saya, meninginkan anak yang bebas, maksudnya bebas menjadi dirinya sendiri. Bebas bukan berarti semata-mata tanpa aturan, melainkan ‘apa adanya’ sesuai dengan alur kehidupannya.
Sebab saya adalah seorang Muslim, kiranya saya setuju dengan Ustadz M. Fauzil Adhim, dalam bukunya Segenggam Iman untuk Anak Kita. Bahwa pertanyaan ini merupakan inti parenting yang menjadi tujuan utama, “Nak, siapa yang akan kamu sembah, setelah kami tiada?”.
Berikutnya, bagaimana caranya agar kita mendapatkan jawaban yang benar? Saya yakin prosesnya panjang dan berliku. Bahkan seringkali, seperti saya, malah dipusingkan oleh perkara kemampuan anak yang sebetulnya anak akan mampu pada waktunya masing-masing.
Tapi, siapalah saya? Sama seperti orangtua lainnya, kami butuh bantuan, dan Allah adalah sebaik-baik tempat meminta, serta memohon pertolongan.
Inilah permulaan tulisan saya. Sharing parenting bukan tempat saya mendikte orangtua lainnya untuk harus bersikap seperti saya, melainkan tempat saya mencurahkan suka dukanya, bersama anak-anak saya yang saya coba terima bahwa ketidaksempurnaannya adalah sempurna.
